Jumat, 12 April 2013

Korban Tewas Banjir Bandang Sampang di Tahun 2013





















SAMPANG-Banjir bandang yang melanda Kota Sampang merupakan banjir terbesar sepanjang sejarah Kota Bahari. Selain menenggelamkan 10 desa dan 6 kelurahan, tercatat  lima orang meninggal akibat terseret arus. Selain korban tewas, air bah kiriman dari wilayah utara itu juga berakibat korban lukaluka. Berdasarkan data yang berhasil diperoleh dari tim badan penanggulangan bencana daerah (BPBD), total korban luka mencapai dua orang.
Sebelumnya, pada hari pertama (8/4) banjir, korban tewas baru ditemukan dua orang. Yakni, M. Farhan, 21, warga Dusun Ponjuk, Kelurahan Polagan dan Farok, 21, warga Dusun Beben 1, Desa Pasean, Kecamatan Kota Sampang. Nah, pada hari kedua banjir kemarin (9/4), ternyata ditemukan lagi korban meninggal dunia. Bahkan, jumlahnya lebih dari hari pertama, yakni mencapai tiga orang, sehingga total korban tewas mencapai lima orang.
Namun, ada perbedaan data yang disampaikan oleh BPBD dan Polres Sampang. Dari data   BPBD menyebutkan, korban tercatat empat orang meninggal dan dua orang luka-luka, sedangkan versi polres, korban meninggal mencapai lima orang. Berdasarkan data yang dihimpun, salah satu korban meninggal kemarin atas nama Mohammad Syafi k, 38, warga Desa Pasean yang asalnya dari Jalan Kenari Gunung Sekar, Sampang. Pria yang masih berstatus guru honorer di SDN Gunung Sekar 1 itu ditemukan tewas oleh warga di sebelah utara makam Aji Gunung Kelurahan Gunung Sekar.
Dari keterangan saksi mata, Yanto, 30, warga Jalan Aji Gunung 1, awalnya korban ditemukan dua anak desa yang keluar rumah ingin memastikan kondisi banjir. Tiba-tiba sekitar pukul 05.30 keduanya dikagetkan dengan penemuan mayat. Karena takut, keduanya langsung melaporkan penemuan itu ke RT setempat. Proses evakuasi langsung dilakukan warga sekitar pukul 06.30. Setelah diangkat, ternyata mayat Syafik, warga yang rumahnya di Jalan Kenari. Korban langsung digotong ke rumah keluarganya di Yayasan Al-Furqon di Jalan Kenari. ”Diduga korban terpeleset dan masuk ke dataran yang paling dalam.
Sebab, di bawah dagunya terdapat luka bekas benturan. Kondisi korban sudah kaku,” terang Yanto yang mengaku ikut mengevakuasi korban. Dijelaskan, kuat dugaan korban meninggal kemarin malam. Indikasinya, tetangga sempat melihat dia pukul 20.00 lewat di dekat rumahnya. ”Dia (korban, Red) sudah diimbau agar tidak pulang ke rumahnya di Pasean. Tapi dia malah meneruskan berjalan ke selatan menerobos air,” beber Yanto. Abdurrahman, kakak kandung korban tidak menduga adiknya akan meninggal akibat banjir. Diceritakan, sejak banjir Senin (8/4) lalu, korban meninggalkan rumahnya hendak ke rumah keluarganya di Jalan Kenari. Namun, hingga kemarin malam tidak ada kabar.
Saat dihubungi ke Yayasan Al-Furqon juga tidak ada informasi. ”Insya Allah almarhum akan  dikubur pukul 16.00 (kemarin, Red) kalau banjir sudah surut. Kami tidak menginginkan almarhum diotopsi. Karena ini memang bencana alam yang dialami adik kami,” terang Abdurrahman. Pada waktu yang sama juga ditemukan korban tewas atas nama Hindun, 70, warga Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Dalpenang. Korban kali pertama ditemukan Rahmad Kurniawan, cucu korban, sekitar pukul 05.30 di dekat rumahnya. ”Tadi malam (kemarin malam, Red) dia diungsikan ke atas atap oleh tetangga.
Mungkin dia jatuh dan tidak bisa berenang. Sejak kemarin memang dicari untuk diungsikan. Karena medan sudah tidak memungkinkan akhirnya gagal. Mbah dibawa ke rumah sakit untuk disucikan, kemudian dimakamkan di Jalan Mutiara,” terang Kurniawan. Sementara korban atas nama Putri, 27, ibu rumah tangga warga Jalan Imam Bonjol juga dikabarkan meninggal. Namun, data tersebut tidak masuk pada data yang tercatat di BPBD, sedangkan pihak kepolisian mengabarkan bahwa Putri meninggal dunia. ”Untuk hari ini, korban meninggal tiga orang.
Satu orang laki-laki atas nama Mohammad Syafik ditemukan di daerah Jalan Aji Gunung, sedangkan dua orang perempuan atas nama Putri dan Hindun ditemukan di Jalan Imam Bonjol dekat rumahnya,” terang Wakapolres Sampang Kompol Alfi an Nurrizal kemarin. Di tempat terpisah, Sekkab Sampang Puthut Budi Santoso mengaku akan memberikan sumbangan kepada korban meninggal. Namun, dimungkinkan pemberian bantuan dua hari pascakejadian. Sebab, air masih merendam rumahrumah warga. ”Kalau saat ini kondisinya tidak memungkinkan. Kita sudah siapkan bantuan untuk korban meninggal. Kami juga sudah bertemu langsung dengan beberapa keluarga korban. Kami ikut belasungkawa atas peristiwa ini,” terang Puthut selaku Ketua  Pelaksana Tanggap Darurat Banjir Sampang. (radar)